BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dengan mulai diterapkannya kurikulum KTSP, dalam mata pelajaran bahasa Inggris siswa diharapkan mempunyai kompetensi dalam menggunakan bahasa Inggris dengan baik dan benar. Standar kompetensi yang diharapkan adalah siswa mampu berkomunikasi dengan lancar baik lisan maupun tulisan. Namun kondisi di lapangan khususnya di sekolah-sekolah yang berada di pedesaan yang sehari-harinya masih menggunakan bahasa daerah sebagian besar siswa kesulitan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris
Pembelajaran Bahasa Inggris di SD diarahkan agar siswa memiliki keterampilan dalam membaca dan menulis,menyimak dan berbicara dan dapat dipergunakan sebagai alat berkomunikasi .terutama dalam masalah berbicara (berkomunikasi secara lisan) dengan bahasa Inggris banyak sekali siswa yang kesulitan untuk berbicara dalam bahsa Inggris, hal ini dapat dimengerti karena dalam Bahasa Inggris antara tulisan dengan pengucapan yang sangat berbeda
Kegiatan pembelajaran akan berhasil baik, apabila guru dalam menyajikan materi menggunakan prosedur yang tepat, diantaranya metode yang tepat, alat peraga yang sesuai, bahasa pengantar yang menarik, sehingga motivasi dan minat anak akan bangkit.
Di dalam KTSP dinyatakan bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Pernyataan tersebut berimplikasi bahwa siapa pun yang mempelajari suatu bahasa pada hakikatnya sedang belajar berkomunikasi. Thompson (2003:1) menyatakan bahwa komunikasi merupakan fitur mendasar dari kehidupan sosial dan bahasa merupakan komponen utamanya. Pernyataan tersebut menyuratkan bahwa kegiatan berkomunikasi tidak bisa dilepaskan dengan kegiatan berbahasa. Dalam kegiatan berkomunikasi dengan bahasa, sebagaimana diketahui meliputi komunikasi lisan dan tulis. Komunikasi lisan terdiri atas keterampilan menyimak/mendengarkan dan keterampilan berbicara, sedangkan komunikasi tulis terdiri dari keterampilan membaca dan menulis.
Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa. Keterampilan berbicara merupakan keterampilan produktif karena dalam perwujudannya keterampilan berbicara menghasilkan berbagai gagasan yang dapat digunakan untuk kegiatan berbahasa (berkomunikasi), yakni dalam bentuk lisan dan keterampilan menulis sebagai keterampilan produktif dalam bentuk tulis. Dua keterampilan lainnya (menyimak dan membaca) merupakan keterampilan reseptif atau keterampilan yang tertuju pada pemahaman. Siswa membutuhkan keterampilan berbicara dalam interaksi sosialnya. Siswa akan dapat mengungkapkan pikiran dan perasaanya secara efektif jika ia terampil berbicara. Dalam kaitan kreativitas, keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan yang perlu mendapat perhatian karena gagasan-gagasan kreatif dapat dihasilkan melalui keterampilan tersebut.
Kemampuan berbicara siswa juga dipengaruhi oleh kemampuan komunikatif. Menurut Utari dan Nababan (1993) kemampuan komunikatif adalah pengetahuan mengenai bentuk-bentuk bahasa dan makna-makna bahasa tersebut, dan kemampuan untuk menggunakannya pada saat kapan dan kepada siapa. Pengertian ini dilengkapi oleh Ibrahim (2001) bahwa kemampuan komunikatif adalah kemampuan bertutur dan menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi, situasi, serta norma-norma berbahasa dalam masyarakat yang sebenarnya. Kompetensi komunikatif juga berhubungan dengan kemampuan sosial dan menginterpretasikan bentuk-bentuk linguistik. Para siswa tentu sudah memiliki pengetahuan sebagai modal dasar dalam bertutur karena ia berada dalam suatu lingkungan sosial yang menuntutnya untuk paham kode-kode bahasa yang digunakan masyarakatnya.
2. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian berbicara ?
b. Tujuan Berbicara ?
c. Jenis-jenis berbicara ?
d. Teknik-teknik berbicara ?
e. Metode yang digunakan dalam pembelajaran berbicara ?
f. Faktor keberhasilan pembelajaran berbicara ?
g. Konsep pembelajaran berbicara ?
h. Karakteristik pembelajaran berbicara ?
i. Penilaian pembelajaran berbicara ?
3. Tujuan Penulisan
a. Mengetahui pengertian berbicara
b. Mengetahui tujuan berbicara
c. Memahami jenis-kenis berbicara berbicara
d. Mengetahui teknik-teknik berbicara
e. Mengetahui metode yang digunakan dalam pembelajaran berbicara
f. Mengetahui faktor keberhasilan dalam pembelajaran berbicara
g. Mengetahui konsep dasar pembelajaran berbicara
h. Mengetahui karakteristik pembelajaran berbicara
i. Mengetahui penilaian yang digunakan dalam menilai kemampuan dalam pembelajaran berbicara
4. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini agar kita mengetahui dan memahami konsep dasar berbicara dan jenis-jenis penilaian yang relevan untuk menilai penguasaan siswa dalam pembelajaran berbicara, pada mata pelajaran bahasa inggris.
5. Sistematika Penulisan
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Rumusan Masalah
c. Tujuan Penulisan
d. Manfaat Penulisan
e. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
a. Pengertian berbicara dalam hubungannya dengan pembelajaran Bahasa Inggris
b. Mengetahui pengertian berbicara
c. Mengetahui tujuan berbicara
d. Memahami jenis-kenis berbicara berbicara
e. Mengetahui teknik-teknik berbicara
f. Mengetahui metode yang digunakan dalam pembelajaran berbicara
g. Mengetahui faktor keberhasilan dalam pembelajaran berbicara
h. Mengetahui konsep dasar pembelajaran berbicara
i. Mengetahui karakteristik pembelajaran berbicara
j. Mengetahui penilaian yang digunakan dalam menilai kemampuan dalam pembelajaran berbicara
BAB III PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Berbicara
Banyak pakar memberikan batasan tentang berbicara, di antaranya Tarigan (1981:15) mengatakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Sejalan dengan Tarigan , Anton M. Moeliono dkk.(1988:114) mengatakan bahwa berbicara adalah berkata, bercakap, berbahasa, melahirkan pendapat dengan perkataan. Demikian juga Djago Tarigan (1998:34) mengatakan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Dari tiga pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan.
Berbicara bukan hanya sekadar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang pembicara memahami atau tidak baik bahan pembicaraannya maupun para penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasannya; dan apakah dia waspada serta antusias atau tidak ( Mulgrave dalam Tarigan 1981:15).
Dipandang dari segi bahasa, menyimak dan berbicara dikategorikan sebagai keterampilan berbahasa lisan. Dari segi komunikasi, menyimak dan berbicara diklasifikasikan sebagai komunikasi lisan. Melalui berbicara orang menyampaikan informasi melalui ujaran kepada orang lain. Melalui menyimak orang menerima informasi dari orang lain. Kegiatan berbicara selalu diikuti kegiatan menyimak atau kegiatan menyimak pasti ada di dalam kegiatan berbicara. Dua-duanya fungsional bagi komunikasi lisan, dua-duanya tak terpisahkan. Ibarat mata uang, sisi muka ditempati kegiatan berbicara sedang sisi belakang ditempati kegiatan menyimak. Sebagaimana mata uang tidak akan laku bila kedua sisinya tidak terisi, maka komunikasi lisan pun tak akan berjalan bila kedua kegiatan tidak berlangsung saling melengkapi. Pembicara yang baik selalu berusaha agar penyimaknya mudah menangkap isi pembicaraannya
Keterampilan berbicara juga menunjang keterampilan menulis dan membaca. Bukankah berbicara pada hakikatnya sama dengan menulis, paling tidak dalam segi ekspresi atau produksi informasi? Hasil berbicara bila direkam dan disalin kembali sudah merupakan tulisan.dan ini sudah merupakan wujud keterampilan menulis. Penggunaan bahasa dalam berbicara banyak kesamaannya dengan penggunaan bahasa dalam teks bacaan. Apalagi organisasi pembicaraan kurang lebih sama dengan pengorganisasian isi bahan bacaan.
B. Tujuan Berbicara
Menurut Tarigan (1998:49) tujuan pembicara biasanya dapat dibedakan atas lima golongan yakni:
1) Berbicara untuk Menghibur
Berbicara untuk menghibur para pendengar, pembicara menarik perhatian pendengar dengan berbagai cara, seperti humor, spontanitas, kisah-kisah jenaka, dan sebagainya. Menghibur adalah membuat orang tertawa dengan hal-hal yang dapat menyenangkan hati. Menciptakan suatu suasana keriangan dengan cara menggembirakan. Sasaran diarahkan kepada perisiwa-peristiwa kemanusiaan yang penuh kelucuan dan kegelian yang sederhana. Media yang sering dipakai dalam berbicara untuk menghibur adalah seni bercerita atau mendongeng ( the art of story-telling), lebih-lebih cerita yang lucu, jenaka, dan menggelikan. Pada saat pembicara atau si tukang dongeng beraksi, para partisipan dapat tertawa bersama-sama dengan penuh kegembiraan dan kekeluargaan atau persahabatan.
2) Berbicara untuk Menginformasikan
Berbicara untuk tujuan menginformasikan dilaksanakan kalau seseorang berkeinginan untuk :
1. menerangkan atau menjelaskan sesuatu proses;
2. memberi atau menanamkan pengetahuan;
3. menguraikan, menafsirkan, atau mengiterpretasikan sesuatu hal,
menjelaskan kaitan, hubungan, relasi antara benda,hal, atau peristiwa.
3) Berbicara untuk Menstimulasi
Berbicara untuk tujuan menstimulasi pendengar jauh lebih kompleks dari berbicara untuk menghibur atau berbicara untuk menginformasikan, sebab pembicara harus pintar merayu, mempengaruhi, atau meyakinkan pendengarnya. Ini dapat tercapai jika pembicara benar-benar mengetahui kemauan, minat, inspirasi, kebutuhan, dan cita-cita pendengarnya. Berdasarkan keadaan itulah pembicara membakar semangat dan emosi pendengarnya sehingga pada akhirnya pendengar tergerak untuk mengerjakan apa-apa yang dikehendaki pembicara.
4) Berbicara untuk Meyakinkan
Tujuan utama berbicara untuk meyakinkan ialah meyakinkan pendengarnya akan sesuatu. Melalui pembicaraan yang meyakinkan, sikap pendengar dapat diubah misalnya dari sikap menolak menjadi sikap menerima. Misalnya bila seseorang atau sekelompok orang tidak menyetujui suatu rencana, pendapat atau putusan orang lain, maka orang atau kelompok tersebut perlu diyakinkan bahwa sikap mereka tidak benar. Melalui pembicara yang terampil dan disertai dengan bukti ,fakta contoh, dan ilustrasi yang mengena, sikap itu dapat diubah dari tak setuju menjadi setuju.
5). Berbicara untuk Menggerakkan
Di dalam berbicara atau berpidato menggerakkan massa yaitu pendengar berbuat, bertindak, atau beraksi seperti yang dikehendaki pembicara merupakan kelanjutan, pertumbuhan, atau perkembangan berbicara untuk meyakinkan. Dalam berbicara untuk menggerakkan diperlukan pembicara yang berwibawa, panutan, atau tokoh idola masyarakat. Melalui kepintarannya berbicara, kelihatannya membakar emosi, kecakapan memanfaatkan situasi, ditambah penguasaannya terhadap ilmu – jiwa massa, pembicara dapat menggerakkan pendengarnya. Misalnya, bung Tomo dapat membakar semangat dan emosi para pemuda di Surabaya, sehingga mereka berani mati mempertahankan tanah air.
C. Jenis-Jenis Berbicara
Dalam interaksi berbicara sehari-hari, sering kita memperhatikan; ada diskusi, ada percakapan, ada pidato menjelaskan, ada pidato menghibur, ada ceramah, ada bertelepon, dan sebagainya. Mungkin Anda bertanya dalam hati, mengapa ada berbagai jenis kegiatan berbicara seperti itu. Jawabannya ada lima landasan yang digunakan dalam mengklasifikasi berbicara, yakni:
1. tujuan,
2. situasi,
3. metode penyampaian,
4. jumlah pendengar, dan
5. peristiwa khusus.
Berdasarkan hal itu, maka berbicara dapat dilihat dari tiga aspek, yakni (1) fungsional, (2) memperhatikan jumlah pembicaranya, serta (3) konsep dasar berbicara, maka jenis-jenis berbicara dapat dilihat, sebagai berikut.
a. Berbicara berdasarkan tujuannya.
1. Berbicara memberitahukan, melaporkan dan menginformasikan
Berbicara termasuk bagian ini untuk bertujuan memberitahukan, melaporkan dan menginformasikan dilakukan jika seseorang menjelaskan sesuatu proses, menguraikan, menafsirkan sesuatu, menyebarkan dan menamkan sesuatu, dan sebagainya.
2. Bicara membujuk, mengajak, meyakinkan
Yang termasuk dalam hal ini, jika pembicara berusaha membangkitkan inspirasi, kemauan atau meminta pendengarnya melakukan sesuatu. Misalnya, guru membangkitkan semangat dan gairah belajar siswanya melalui nasihat-nasihat. Dalam kegiatan yang masuk bagian ini si pembicara harus pintar merayu, mempengaruhi dan meyakinkan pendengarnya. Oleh karena itu, ada sebagian pandangan yang mengatakan orang pintar merayu, memiliki talenta dan retorika yang memikat. Orang-orang yang pintar merayu dan meyakinkan bisa membuat sikap pendengar dapat diubah, dari menolak menjadi menerima. Bukti, fakta atau contoh yang tepat yang disodorkan dalam pembicaraan akan membuat pendengar menjadi yakin.
3. Bicara menghibur
Bicara untuk menghibut memerlukan kemampuan menarik perhatian pendengar. Suasana pembicaraan bersifat santai dan penuh canda. Humor dan segar, baik dalam gerak, cara bicara dan menggunakan kalimat memikat pendengar. Berbicara menghibur biasanya dilakukan pelawak dalam suatu pentas. Pada waktu dahulu para pendongeng adalah orang-orang yang pintar berbicara menghibur melalui cerita yang disampaikannya.
b. Berbicara berdasarkan situasinya
1. Berbicara formal
Dalam situasi formal, pembicara dituntut harus bicara formal.
Misalnya, ceramah, wawancara, mengajar untuk para guru.
2. Berbicara informal
Dalam situasi formal, pembicara dituntut harus bicara informal.
Misalnya, bersenda gurau, bertelepon
c. Berbicara berdasarkan cara penyampaiannya
1. Berbicara mendadak (spontan)
Berbicara mendadak terjadi jika seseorang tanpa direncanakan
Sebelumnya harus berbicara di depan umum.
2. Berbicara berdasarkan catatan
Dalam berbicara seperti ini, pembicara menggunakan catatan kecil pada
kartu-kartu yang telah disiapkan sebelumnya dan telah menguasai materi
pembicaraan sebelum tampil di muka umum
3. Berbicara berdasakan hafalan
Pembicara menyiapkan dengan cermat dan menulis dengan lengkap
bahan pembicaraannya. Kemudian dihafalkannya kata demi kata,
kalimat demi kalimat, dan seterusnya.
4. Berbicara berdasarkan naskah
Pembicara telah mempersiapkan naskah pembicaan secara tertulis dan
dibacakan pada saat berbicara.
d. Berbicara berdasarkan jumlah pendengarnya
1. Berbicara antarpribadi (bicara empat mata)
2. Berbicara dalam kelompok kecil ( 3 – 5 orang)
3. Berbicara dalam kelompok besar (massa). Berbicara seperti ini terjadi apabila
menghadapi kelompok besar dengan jumlah pendengar yang besar,
seperti pada rapat umum, kampanye, dan sebagainya.(Djago Tarigan, 1998:
53-54)
e. Berbicara berdasarkan Peristiwa Khusus
1. Pidato Presentasi
2. Pidato Penyambutan
3. Pidato Perpisahan
4. Pidato Jamuan (makan malam)
5. Pidato Perkenalan
6. Pidato Nominasi (mengunggulkan) ( Logan dalam Djago Tarigan, 1998:56)
D. Teknik Berbicara
Djago Tarigan (1998:154-180) mengetengahkan tentang metode dan teknik pembelajaran berbicara sebagai berikut :
1. Ulang – Ucap
Model ucapan adalah suara guru atau rekaman suara guru. Model ucapan yang diperdengarkan kepada siswa harus dipersiapkan dengan teliti. Model ucapan ini diperdengarkan di depan kelas, siswa mendengarkan dengan teliti lalu mengucapkannya kembali sesuai dengan model. Teknik ini digunakan untuk merangsang siswa mengekpresikan hasil pengamatannya. Yang diamati adalah benda, gambar benda, dan duplikat benda.
2. Deskripsi
Teknik mendekripsi/menggambarkan/melukiskan/memerikan sesuatu secara verbal yang digunakan melatih siswa berani berbicara atau mengekspresikan hasil pengamatannya terhadap sesuatu.
3. Menjawab Pertanyaan
Teknik ini digunakan untuk melatih siswa berbicara. Melalui pertanyaan guru siswa harus terpancing untuk menjawabnya dengan baik, benar, tepat. Untuk itu pertanyaan harus disiapkan dengan cermat, tepat sasaran, dan merangsang. Misalnya menanyakan identitas diri.
4. Bertanya
Dengan bertanya, siswa dapat menyatakan keingintahuannya tehadap sesuatu hal. Melalui pertnyaan yang sistematis, siswa dapat menemukan yang diinginkannya.
5. Pertanyaaan Menggali
Teknik ini digunakan untuk merangsang siswa banyak berpikir. Di samping memancing siswa berbicara, pertanyaan menggali dapat digunakan untuk menilai kedalaman dan keluasan pemahaman siswa terhadap suatu masalah. Kegiatan ini cocok karena dalam menyusun pertanyaan diperlukan penalaran, menguasai sebab akibat , berpikir sistematis.
6. Bercerita
Kegiatan bercerita untuk menuntun siswa menjadi pembicara yang baik. Lancar bercerita, berarti lancar berbicara. Dalam bercerita siswa dilatih berbicara jelas, intonasi tepat, urutan kalimat sistematis, menguasai massa pendengar, dan berperilaku menarik.Berani membawakan cerita sesuai dengan isi (menirukan suara, perilaku tokoh, dan sebagainya), sehingga emosi, imajinasi pendengar terangsang karenanya.
7. Melanjutkan Cerita
Teknik ini dilaksanakan oleh dua orang atau lebih. Pelaku harus siap mengikuti jalan cerita sejak awal sampai dengan selesai agar penyambungan cerita tepat. Menyimak, kreatif, berpikir, dan nalar dituntut dalam hal ini. Penerapannya diawali oleh guru/murid bercerita secara lisan. Setelah separo cerita, pencerita berhenti. Pencerita berikutnya melanjutkan cerita. Agar seluruh siswa terikat dalam kegiatan ini, guru secara acak menugasi siswa untuk melanjutkan cerita yang disimaknya. Hal ini ditempuh guru agar semua siswa dapat melanjutkan cerita yang disimaknya.
8. Reka Cerita Gambar
Teknik ini digunakan agar siswa terangsang, terdorong untuk bercerita. Untuk ini gambar digunakan sebagai media, Melalui kegiatan ini diharapkan siswa berani bercerita/terampil bercerita. Untuk itu sajian gambar harus menarik, merangsang emosi / imajinasi siswa untuk menanggapinya. Sajian materi diupayakan sesuai dengan lingkungan, minat dan perhatian,bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan dan pengalaman siswa. Melalui kegiatan ini akan tampak kemampuan penghayatan dan penafsiran siswa terhadap gambar.
9. Memberi Petunjuk
Kegiatan ini dimaksudkan agar siswa memiliki keterampilan berbicara bertarap tinggi karena memberi petunjuk berarti berbicara secara jelas dan terarah. Guru dalam memberikan petunjuk kepada siswa harus (1) petunjuk guru hendaknya singkat, padat, jelas, dan mudah dipahami.(2)petunjuk guru tertuang dalam stuktur kalimat yang mudah dipahami, menggunakan kata pilihan tepat sasaran, tidak mendua makna. (3)petunjuk guru hendaknya tersusun secara sistematis, urut, nasional. Kegiatan memberi petunjuk hendaknya mengacu pada pilihan faktor-faktor lingkungan siswa, kebutuhan siswa, kemampuan siswa, dan minat siswa.
10. Parafrase
Parafrase berarti alih bentuk, misalnya memprosakan puisi atau sebalinya mempuisikan prosa. Kegiatan ini dibelajarkan agar siswa dapat mengubah atau mengalih bentuk dari prosa menjadi puisi atau sebaliknya. Artinya dapat menceritakan puisi dengan bahasa prosa dan sebaliknya. Siswa bergairah melaksanakan kegiatan ini, bila guru mahir melaksanakannya. Puisi atau prosa yang akan diprosakan harus dipilih dengan cermat sehingga dapat merangsang menumbuh-kembangkan minat, dan sebagainya sehingga siswa termotivasi untuk melaksanakannya. Untuk itu harus dipilih yang sesuai dengan sikon, lingkungan, kemapuan, pengetahuan, pengalaman anak. Karenanya guru harus dengan matang pembelajaran puisi, prosa secara sistematis, terinci, terarah. Guru mempersiapkan sebuah puisi yang cocok bagi kelas tertentu. Guru membacakan puisi itu dengan suara jelas, intonasi yang tepat, dan kecepatan normal. Siswa menyimak pembacaan dan kemudian menceritakannya dengan kata-kata sendiri.
11. Percakapan
Percakapan merupakan pertukaran pendapat, pikiran tentang suatu topik tertentu antara pembicara-pembicara. Dalam kegiatan terjadi perlaihan peran yaitu pembicara menjadi penyimak, penyimak menjadi pembicara. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa berkemampuan menyampaikan sesuatau kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja. Dalam keiatan ini biasanya dijumpai:
(1). Suasana akrab, spontanitas berbicara.
(2). Topik pembicaraan suatu hal yang disepakati bersama
(3). Topik yang dibahas merupakan kepentingan bersama
(4). Percakapan merupakan dasar berbicara / pengembangan berbicara
(5). Guru harus sering melatih siwa untuk melasanakan kegiatan
percakapan.
12. Bertelepon
Keterampilan kegiatan ini dibelajarkan agar siswa terampil menggunakan telepon, tahu akan fungsi dan peranan telepon. Siswa diharapkan dapat bertelepon dengan baik, benar, tepat sasaran dan tahu serta memahami bahwa telepon dapat digunakan untuk berbagai keperluan terutama berita penting (menghubungi relasi, keluarga, sahabat, dan seterusnya melalui berbicara tidak tatap muka / jarak jauh).Ciri khas bertelepon ialah berbicara jelas, singkat, dan lugas. Faktor waktu juga harus diperhatikan.Bertelepon dengan bercakap-cakap memiliki kesamaan yaitu kegiatan berbicara dan perbedaan pada jarak, interaksi, waktu.
13. Wawancara
Wawancara atau interviu adalah percakapan dalam bentuk tanya jawab. Untuk ini dipersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada orang tertentu untuk masalah tertentu. Pertanyaan-pertanyaan sajian harus rasional, tepat sasaran, singkat, padat, jelas. Melalui jawaban akan pertanyaan didapatkan gambaran watak, adat, sifat, keahlian, pengalaman, pengetahuan dan sebagainya akan orang yang akan diwawancarai. Melalui kegiatan ini siswa akan terlatih dalam menyiapkan pertanyaan yang terarah, dalam mengajukan pertanyaan dengan jelas, tepat sasaran, rasional, singkat, padat serta dengan bahasa, intonasi, nada, irama, gerak yang selaras, serasi dengan mengajukan pertanyaan.
14. Bermain Peran
Penguasaan bahan pembelajaran melalui pengembangan penghayatan dan imajinasi. Teknik bermain peran sangat cocok untuk pembelajaran berbahasa (akan tergambar jelas adanya). Dalam bermain peran setiap siswa yang terlibat harus menghayati peran dalam ragam segi (gerak indra, berbahasa, dan seterusnya). Hal tersebut disebabkan fungsi dan peran tokoh yang diperankannya berkarakteristik berbeda (anak muda, orang tua, dokter, petani, pedagang dan sebagainya). Untuk itu peranan siswa dalam bermain peran menuntut ragam hal (gerak jasmani/panca indra, bahasa dan seterusnya).
15. Dramatisasi
Bermain drama berarti mementaskan lakon, cerita, karakter sesuatu.Biasanya cerita yang dilakonkan sudah dalam bentuk drama. Guru dan siswa mempersiapkan naskah atau skenario, pelaku, dan perlengkapan. Makna kata-kata dapat didramatisasi (orang marah akan tersirat gerak-geriknya). Teknik dramatisasi dilaksanakan dengan mementaskan dan melaksanakan sifat/karakter pelaku drama. Melalui dramatisasi siswa dilatih mengekspresikan perasaan dan pikirannya dalam bentuk bahasa lisan.
16. Diskusi
Metode ini digunakan karena relevan dengan CBSA. Melalui kegiatan ini akan berkembang keterampilan mengamati, mengklasifikasi, menginterpresikan, menyimpulkan, menerapkan, dan mengomunikasikan. Diskusi sebagai teknik pembelajaran berbahasa suatu cara penguasaan materi ajar melalui tukar pendapat, tukar pengalaman dan argumentasi.
17. Menceritakan Kembali
Teknik ini digunakan dalam pembelajara berbicara agar siswa memiliki kemampuan untuk menceritakan kembali suatu cerita yang disimaknya dengan bahasa siswa. Hal ini akan menjadikan siswa terampil berbicara dengan nalar yang baik, mampu menyusun kata menjadi kalimat runtut dan mengkomunikasikan menjadi cerita.
18. Melaporkan
Kegiatan menyampaikan gambaran, lukisan, peristiwa terjadinya suatu hal. Hal yang dilaporkan beragam, misalnya tentang banjir, tanah longsor, kerja bakti, upacara bendera, kepramukaan, dan lain-lain. Bahan laporan singkat, padat, jelas, lugas, sederhana, menarik perhatian, rasional,lancar, dan baku.
E. Faktor-Faktor Keberhasilan Berbicara
Dalam berbicara ada faktor yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) pembicara, dan (2) pendengar. Kedua faktor tersebut akan menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan berbicara. Di bawah ini kedua faktor tersebut akan dibahas satu persatu.
1. Pembicara
Pembicara adalah salah satu faktor yang menimbulkan terjadinya kegiatan berbicara. Dan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pembicara untuk melakukan kegiatannya, yaitu: (1) pokok pembicaraan (2) metode, (3) bahasa, (4) tujuan, (5) sarana, dan (6) interaksi. Keenam hal itu akan dibicarakan lebih mendalam sebagai berikut.
1) Pokok Pembicaraan
Isi atau pesan yang menjadi pokok pembicaraan hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini.
(a) Pokok pembicaraan bermanfaat bagi pendengar baik berupa informasi maupun pengetahuan.
(b) Pokok pembicaraan hendaknya serba sedikit sudah diketahui dan bahan untuk memperluas pembicaraan yang sudah diketahui itu lebih mudah diperoleh.
(c) Pokok pembicaraan menarik untuk dibahas baik oleh pembicara maupun bagi pendengar. Pokok pembicaraan yang menarik biasanya pokok pembicaraan seperti berikut:
a. merupakan masalah yang menyangkut kepentingan bersama;
b. merupakan jalan keluar dari suatu persoalan yang tengah dihadapi;
c. merupakan persoalan yang ramai dibicarakan dalam masyarakat atau persoalan yang jarang terjadi;
d. mengandung konflik atau pertentangan pendapat.
(d) Pokok pembicaraan hendaknya sesuai dengan daya tangkap pendengar; tidak melebihi daya intelektual pendengar atau sebaliknya, lebih mudah.
2) Bahasa
Bagi pembicara, bahasa merupakan suatu alat untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Oleh karena itu, pembicara mutlak harus menguasai faktor kebahasaan. Di samping itu, pembicara juga harus menguasai faktor nonkebahasaan. Faktor-faktor tersebut akan dibahas berikut ini.
a. Faktor Kebahasaan
Faktor kebahasaan yang terkait dengan keterampilan berbicara antara lain sebagai berikut.
(1) Ketepatan pengucapan atau pelafalan bunyi
Pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Hal ini dapat dilakukan dengan berlatih mengucapkan bunyi-bunyi bahasa. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perhatian pendengar. Memang pola ucapan dan artikulasi yang kita gunakan tidak selalu sama, masing-masing kita mempunyai ciri tersendiri. Selain itu ucapan kita juga sering dipengaruhi oleh bahasa ibu. Akan tetapi, jika perbedaan itu terlalu mencolok sehingga menjadi suatu penyimpangan, maka keefekvifan komunikasi akan terganggu.
(2) Penempatan Tekanan, Nada, Jeda, Intonasi dan Ritme
Penempatan tekanan, nada, jeda, intonasi dan ritme yang sesuai akan merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara; bahkan merupakan faktor penentu dalam keefektivan berbicara. Suatu topik pembicaraan mungkin akan kurang menarik, namun dengan tekanan, nada, jeda, dan intonasi yang sesuai akan mengakibatkan pembicaraan itu menjadi menarik. Sebaliknya, apabila penyampaiannya datar saja, dapat menimbulkan kejemuan bagi pendengar dan keefektivan berbicara akan berkurang.
Kekurangtepatan dalam penempatan tekanan, nada, jeda, intonasi, dan ritme dapat menimbulkan perhatian pendengar beralih kepada cara berbicara pembicara, sehingga topik atau pokok pembicaraan yang disampaikan kurang diperhatikan. Dengan demikian keefektivan berbicara menjadi terganggu.
(3) Pemilihan kata dan ungkapan yang baik, Konkret, dan bervariasi
Kata dan ungkapan yang kita gunakan dalam berbicara hendaknya baik, konkret, dan bervariasi. Pemilihan kata dan ungkapan yang baik, maksudnya adalah pemilihan kata yang tepat dan sesuai dengan keadaan para pendengarnya. Misalnya, jika yang menjadi pendengarnya para petani, maka kata-kata yang dipilih adalah kata-kata atau ungkapan yang mudah dipahami oleh para petani.
Pemilihan kata dan ungkapan harus konkret, maksudnya pemilihan kata atau ungkapan harus jelas, mudah dipahami para pendengar. Kata-kata yang jelas biasanya kata-kata yang sudah dikenal oleh pendengar yaitu kata-kata popular. Pemilihan kata atau ungkapan yang abstrak akan menimbulkan kekurangjelasan pembicaraan.
Pemilihan kata dan ungkapan yang bervariasi, maksudnya pemilhan kata atau ungkapan dengan bentuk atau kata lain lebih kurang maknanya sama dengan maksud agar pembicaraan tidak menjemukan pendengar.
(4) Ketepatan Susunan Penuturan
Susunan penuturan berhubungan dengan penataan pembicaraan atau uraian tentang sesuatu . Hal ini menyangkut penggunaan kalimat. Pembicaraan yang menggunakan kalimat efektif akan lebih memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraan.
Faktor Nonkebahasaan
Faktor-faktor nonkebahasaan mencakup (1) sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku , (2) pandangan yang diarahkan pada lawan bicara, (3) kesediaan menghargai pendapat orang lain, (4) kesediaan mengoreksi diri sendiri, (5) keberanian mengungkapkan dan mempertahankan pendapat, (6) gerak-gerik dan mimik yang tepat, (7) kenyaringan suara, (8) kelancaran, (9) penalaran dan relevansi, dan (10) penguasaan topik.
(5)Tujuan
Seorang pembicara dalam menyampaikan pesan kepada orang lain pasti mempunyai tujuan, ingin mendapatkan responsi atau reaksi. Responsi atau reaksi itu merupakan suatu hal yang menjadi harapan. Tujuan atau harapan pembicaraan sangat tergantung dari keadaan dan keinginan pembicara.
Secara umum tujuan pembicaraan adalah sebagai berikut:
a. mendorong atau menstimulasi,
b. meyakinkan,
c. menggerakkan,
d. menginformasikan, dan
e. menghibur.
(6) Sarana
Sarana dalam kegiatan berbicara mencakup waktu, tempat, suasana, dan media atau alat peraga. Pokok pembicaraan yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan waktu yang telah ditentukan. Berbicara terlalu lama atau melebihi waktu yang disediakan dapat menimbulkan rasa jenuh para pendengar.
Tempat berbicara sangat menentukan keberhasilan pembicaraan. Dalam hal ini perlu diperhatikan faktor lokasi, jumlah pendengar, posisi pembicara dan pendengar, cahaya, udara, dan pengeras suara. Berbicara pada suasana tertentu pun akan mempengaruhi keberhasilan pembicaraan. Pembicaraan yang berlangsung pada pagi hari tentu akan lebih berhasil dibandingkan dengan pembicaraan pada siang, sore, dan malam hari.
Media atau alat peraga akan membantu kejelasan dan kemenarikan uraian. Karena itu, jika memungkinkan, dalam berbicara perlu diusahakan alat bantu seperti film, gambar, dan alat peraga lainnya.
(7) Interaksi
Kegiatan berbicara berlangsung menunjukkan adanya hubungan interaksi antara pembicara dan pendengar. Interaksi dapat berlangsung searah, dua arah, dan bahkan multi arah. Kegiatan berbicara yang berlangsung satu arah, misalnya laporan pandangan mata pertandingan sepak bola, tinju, pembacaan berita. Kegiatan berbicara yang berlangsung dua arah, misalnya pembicaraan dalam bentuk dialog atau wawancara. Sedangkan kegiatan berbicara yang berlangsung multi arah biasanya terjadi pada acara diskusi, diskusi kelompok, rapat, seminar, dan sebagainya.
(8) Pendengar
Suatu kegiatan berbicara akan berlangsung dengan baik apabila dilakukan di hadapan para pendengar yang baik. Karena itu, pendengar harus mengetahui persyaratan yang dituntut untuk menjadi pendengar yang baik.
E. Konsep Pembelajaran Berbicara
Di dalam KTSP dinyatakan bahwa belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Pernyataan tersebut berimplikasi bahwa siapa pun yang mempelajari suatu bahasa pada hakikatnya sedang belajar berkomunikasi. Thompson (2003:1) menyatakan bahwa komunikasi merupakan fitur mendasar dari kehidupan sosial dan bahasa merupakan komponen utamanya. Pernyataan tersebut menyuratkan bahwa kegiatan berkomunikasi tidak bisa dilepaskan dengan kegiatan berbahasa. Dalam kegiatan berkomunikasi dengan bahasa, sebagaimana diketahui meliputi komunikasi lisan dan tulis. Komunikasi lisan terdiri atas keterampilan menyimak/mendengarkan dan keterampilan berbicara, sedangkan komunikasi tulis terdiri dari keterampilan membaca dan menulis.
Dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa, khususnya pengembangan keterampilan berbicara, guru diharapkan mampu memberikan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan usia dan kebutuhan siswa. Keberhasilan pembelajaran berbicara tentu terkait dengan berbagai faktor, di antaranya bagaimana guru merumuskan indikator dan tujuan, mengorganisasikan bahan, mengonstruk alat evaluasi, mengemas kegiatan, memilih metode dan teknik yang sesuai, serta menggunakan sumber dan media pembelajaran. Keenam faktor tersebut memerlukan keterampilan guru sehingga pembelajaran bahasa bisa berlangsung dengan memfokuskan pada siswa aktif , yaitu mengikuti kaidah PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan).
E. Karakteristik Pembelajaran Berbicara
Kegiatan berbicara dapat berlangsung jika setidak-tidaknya ada dua orang yang berinteraksi, atau seorang pembicara menghadapi seorang lawan bicara. Dengan kemajuan teknologi, kegiatan berbicara dapat berlangsung tanpa harus terjadi kegiatan tatap muka, misalnya pembicaraan melalui telepon. Bahkan melalui layar telepon seluler 3 G, tanpa bertemu langsung dua orang yang sedang berbicara dapat saling melihat. Kegiatan berbicara yang bermakna juga dapat terjadi jika salah satu pembicara memerlukan informasi baru atau ingin menyampaikan informasi penting kepada orang lain.
G. Metode Pembelajaran Berbicara
Pembelajaran berbicara harus berorientasi pada aspek penggunaan bahasa, bukan pada aturan pemakaiannya. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran berbicara di kelas semestinya diarahkan untuk membuat dan mendorong siswa mampu mengemukakan pendapat, bercerita, melakukan wawancara, berdiskusi, bertanya jawab, dan berpidato.
Metode pengajaran yang selama ini kita ketahui adalah ceramah, tanya jawab, demonstrasi, penugasan, diskusi, karyawisata, dan sosiodrama. Namun, untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa , diperlukan metode pembelajaran berbicara yang sesuai, yang menekankan pada siswa aktif atau berpusat pada siswa. Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar mengajar di kelas harus banyak kegiatan siswa berlatih atau praktik berbicara sehingga diketahui kemajuan kemampuan berbicaranya.
Untuk menentukan metode mana yang cocok dalam mengembangkan kemampuan berbicara, guru harus mengacu pada kurikulum (Standar Isi). Semua kompetensi dasar berbicara pada kurikulum harus dilihat, dicocokkan dengan metode dan model pembelajarannya. Jika metode yang dipilih sesuai dan benar-benar dapat mengembangkan keterampilan berbicara setiap siswa, maka pembelajaran berbicara akan disukai siswa. Apalagi jika guru dapat memvariasikan kegiatan (tidak monoton) dan pengelolaan kelas, diharapkan siswa lebih termotivasi untuk terus berlatih berbicara.
H. Media Pembelajaran Berbicara
Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar, dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media.
Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media pembelajaran berbicara di antaranya adalah hubungan atau interaksi manusia; realia; gambar bergerak atau tidak; tulisan, suara yang direkam, permainan untuk kegiatan memberikan petunjuk. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar mempelajari bahasa. Namun demikian tidaklah mudah mendapatkan kelima bentuk itu dalam satu waktu atau tempat.
Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi belajar siswa. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada siswa. Selain itu, media juga harus merangsang siswa mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan siswa dalam memberikan tanggapan, umpan balik, dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktik berbicara dengan benar.
I. Penilaian Pembelajaran Berbicara
Ada dua jenis penilaian yang digunakan dalam pembelajaran berbicara, yaitu penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung untuk menilai sikap siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Penilaian hasil dilakukan berdasarkan unjuk kerja yang dilakukan siswa ketika menyajikan kompetensi berbicara yang dituntut kurikulum atau mempresentasikan secara individual.
Dalam penilaian proses digunakan lembar penilaian sikap (afektif) yang terdiri dari aspek: (1) kedisiplinan; (2) minat; (3) kerja sama; (4) keaktifan; dan (5) tanggung jawab. Dalam penilaian hasil digunakan rubrik penilaian untuk mengetahui kompetensi siswa dalam berbicara, misalnya menanggapi pembacaan cerpen. Ada beberapa aspek yang dinilai, yaitu (1) kelancaran menyampaikan pendapat/tanggapan; (2) kejelasan vokal; (3) ketepatan intonasi; (4) ketepatan pilihan kata (diksi); (5) struktur kalimat (tuturan); (6) kontak mata dengan pendengar; (7) ketepatan mengungkapkan gagasan disertai data tekstual.
Penilaian kompetensi berbicara yang dilakukan dengan unjuk kerja/performance yang utama perlu diukur adalah yang berkaitan dengan penggunaan bahasa seperti penguasaan lafal, struktur, dan kekayaan kosa kata. Selain itu, juga penguasaan masalah yang menjadi bahan pembicaraan, bagaimana siswa memahami topik yang dibicarakan dan mampu mengungkapkan gagasan di dalamnya, serta kemampuan memahami bahasa lawan bicara ( Burhan Nurgiyantoro, 2001:276).
Penilaian kemampuan berbicara haruslah membiarkan siswa untuk menghasilkan bahasa dan mengemukakan gagasan melalui bahasa yang sedang dipelajarinya. Dengan kata lain, penilaian berbicara harus dilakukan dengan praktik berbicara. Jadi, bentuk penilaian pembelajaran berbicara seharusnya memungkinkan siswa untuk tidak saja mengucapkan kemampuan berbahasanya, melainkan juga mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaannya sehingga penilaian ini bersifat fungsional (Burhan Nurgiyantoro, 2001:278).
Dalam menggunakan bentuk-bentuk penilaian di atas, pelaksanaannya tetap harus focus pada aspek kognitif . Meskipun aspek psikomotor yang berupa gerakan mulut, ekspresi mata, dan gesture lain juga harus dinilai, 6 tingkatan aspek kognitif Bloom yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan berpikir tetap harus menjadi focus utama karena berkaitan dengan kemampuan menuangkan gagasan (Ibid, 2001:291-292). Keenam tingkatan berpikir ( C1 – C6) dari yang paling rendah hingga paling tinggi (mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesiskan, dan mengevaluasi) harus dinilai dengan menggunakan rubric dan penyekoran yang tepat sehingga tidak ada siswa yang dirugikan karena kompetensi tiap siswa terukur dengan alat ukur yang akurat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Penilaian kemampuan berbicara haruslah membiarkan siswa untuk menghasilkan bahasa dan mengemukakan gagasan melalui bahasa yang sedang dipelajarinya. Dengan kata lain, penilaian berbicara harus dilakukan dengan praktik berbicara. Jadi, bentuk penilaian pembelajaran berbicara seharusnya memungkinkan siswa untuk tidak saja mengucapkan kemampuan berbahasanya, melainkan juga mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaannya sehingga penilaian ini bersifat fungsional (Burhan Nurgiyantoro, 2001:278).
Dalam menggunakan bentuk-bentuk penilaian di atas, pelaksanaannya tetap harus focus pada aspek kognitif . Meskipun aspek psikomotor yang berupa gerakan mulut, ekspresi mata, dan gesture lain juga harus dinilai, 6 tingkatan aspek kognitif Bloom yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan berpikir tetap harus menjadi focus utama karena berkaitan dengan kemampuan menuangkan gagasan (Ibid, 2001:291-292). Keenam tingkatan berpikir ( C1 – C6) dari yang paling rendah hingga paling tinggi (mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesiskan, dan mengevaluasi) harus dinilai dengan menggunakan rubric dan penyekoran yang tepat sehingga tidak ada siswa yang dirugikan karena kompetensi tiap siswa terukur dengan alat ukur yang akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standar Nasional Pendidikan. ( 2006 ). Panduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD/ MI. Jakarta : BP Dharmabhakti
Direktorat PMU. ( 2003 ). Pedoman Khusus Pola Induk Sistem Penilaian Hasil Kegiatan Pembelajaran Berbasis Kemampuan Dasar. Jakarta : Dikmenum, Depdiknas
Noehi Nasoetion & Adi Suryanto. ( 2003 ). Tes, Pengukuran dan Penilaian. Jakarta : Universitas Terbuka
Pusat Penilaian Pendidikan. ( 2003 ). Sistem Penilaian Kelas. Jakarta : BP Dharmabhakti
Rani, Abdul., dkk ( 2004 ). Analisis Wacana Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang : Banyumedia Publishing
Samsuri. ( 1991 ). Analisis Bahasa. Jakarta : Erlangga
Suparno. ( 2002 ). Dasar-Dasar Linguistik Umum. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya
Gails, T. & Redman, S. ( 1996 ). Learning to Learn English. Terjemahan Yan Haryanto. Jakarta : Universitas Terbuka